'Kenapa sih kita baru bisa dibilang komplit dengan kehadiran orang lain itu? Kenapa gak dengan kehadiran sebuah barang, atau... atau hobi, baru kita bisa dibilang komplit? Kenapa kesempurnaan hidup kita, sebagai manusia, harus ditandai bahwa kita udah bisa ketemu dengan soulmate kita?'
Semuanya tidak adil untuk gue. Bagaimana dengan para jomblo abadi, yang mungkin mati sendirian? Bagaimana dengan orang yang memilih untuk tidak pernah mencintai orang lain? Atau, ini yang paling parah: bagaimana dengan orang yang cintanya selalu bertepuk sebelah tangan?
Unrequited love, atau cinta yang tak terbalas, adalah hal yang paling bisa bikin kita ngais tanah. Untuk tahu kalau cinta kita tak berbalas, rasanya seperti diberitahu bahwa kita tidak pantas untuk mendapatkan orang tersebut. Rasanya, seperti diingatkan bahwa kita, memang tidak sempurna, atau setidaknya tidak cukup sempurna untuk orang tersebut.
'Unrequited love itu gak enak banget. Kayak itu, tau gak, katanya Charlie Brown di komik Peanuts: Tidak ada yang bisa menghilangkan rasa selai kacang seperti cinta yang tak terbalas.'
Di dalam strip komik Peanuts, Charlie Brown digambarkan sebagai orang yang suka roti selai kacang. Sewaktu cintanya tidak dibalas dengan seorang cewek yang dia suka, setiap kali Charlie Brown makan roti selai kacang, ia tak bisa lagi merasakan rasa selai itu di lidahnya. Filosofi Indonesianya sederhana: jika cinta bisa membuat tahi jadi rasa cokelat, cinta yang tak berbalas bisa membuat cokelat jadi rasa tahi.
'Nothing takes the flavor out of peanut butter quite like unrequited love'



0 komentar:
Posting Komentar